Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Labels

Featured Posts

Thursday, June 26, 2008

Edensor Edensor by Andrea Hirata


My review


rating: 3 of 5 stars
Sebuah novel tentang petualangan seru dua tokoh utama dalam cerita ini, Ikal dan Arai, yang berbekal kenekatan luar biasa menjelajah 21 negara di benua eropa dan afrika. Fantastis. Gaya khas Ikal bercerita mengalir menggelitik perut untuk terpingkal dibuatnya. Persahabatan homo sapiens-homo sapiens antar negara yang beragam dan kocak membuat kita ingin mengetahui rupa-rupa mereka. Sayang sekali foto-foto mereka dan beberapa event tak ditampilkan di novelnya. Novel ini layak dibaca untuk meningkatkan energi positif kita setelah sekian jam lelah dan jenuh oleh rutinitas yang mungkin membosankan. Bukankah sedikit tertawa akan jauh lebih menyehatkan dari pada bete seharian. he he he ..... ...


View all my reviews.
A Thousand Splendid Suns A Thousand Splendid Suns by Khaled Hosseini


My review


rating: 3 of 5 stars
"Hati pria sangat berbeda dengan rahim ibu, Mariam. Rahim tak akan berdarah ataupun melar karena harus menampungmu."



Itulah sepenggal pesan salah satu tokoh wanita dalam cerita ini, Nana, kepada putrinya Maryam yang tak lain adalah sang tokoh utama. Dari sini dapat kita bayangkan novel ini akan lebih banyak bercerita tentang perjuangan seorang wanita. Maryam kecil adalah seorang anak harami (anak haram)seorang pria kaya bernama Jalil mantan majikan Nana. Perjuangan Maryam kecil mencari ayah biologisnya yang berbuah kematian Nana merupakan awal kepedihan yang berkepanjangan selama hidupnya. Kekerasan, peperangan, penindasan, pelarian, dan juga cinta yang mewarnai kehidupan para tokoh wanita dalam cerita ini membuat mereka berjuang tanpa pernah takut kalah. Meski lahir dari pengarang yang sama, alur cerita A Thousand Splendid Suns ini berbeda dengan novel Khaleed Hossaeni sebelumnya, The Kite Runner. Ada dua tokoh utama dalam novel ini. Keduanya tak dimunculkan secara bersamaan, namun dirangkai sedemikian rupa melalui penokohan dalam chapter-chapter yang berbeda dan kemudian dipertemukan. Menyentuh.


View all my reviews.
The Greatest Gifts Our Children Give to Us The Greatest Gifts Our Children Give to Us by Steven W. Vannoy


My review


rating: 4 of 5 stars
Ada banyak hal-hal kecil dari dunia anak-anak yang sering terabaikan oleh para orang tua ternyata mampu memberikan pelajaran paling berharga dalam kehidupan orang dewasa. Bahkan celoteh sederhana mereka mengandung kearifan yang luar biasa. Dalam buku "10 Anugerah Terindah bagi Orang Tua" (versi terjemahannya), Stephen W. Vannoy mengajak kita belajar dari kearifan anak-anak. Buku ini merupakan antologi kasih dari beberapa narasumber berdasarkan pengalaman mereka. Mengalir dengan gaya bercerita ala Chicken Soup, buku ini enak dibaca. Hanya saja karena ini buku terjemahan, bahasa yang digunakannya kadang-kadang kurang luwes.


View all my reviews.

Thursday, April 17, 2008

Monitor: Piranti Tak Kasat Mata di Kepala

Apakah anda pernah belajar bahasa lain selain bahasa Indonesia? Jika pernah, maka pasti anda pernah menemui kendala sebagaimana orang mempelajari hal baru dalam hidupnya. Beberapa kendala akan muncul bertahap sesuai dengan tingkat kesulitan masing-masing tahapan belajar. Mulai dari level yang paling dasar, menengah , hingga mahir sekalipun, seorang pembelajar bahasa masih akan menjumpai kendala-kendala yang berkaitan dengan tingkat penguasaannya.

Pada level dasar, seorang pembelajar bahasa mulai mengenal bunyi bahasa, cara pengucapan dan pengenalan kosa kata secara visual maupun audiotorial dan tak jarang pula melalui aktifitas kinestetik. Pada fase ini juga, mulai diperkenalkan teori-teori dasar, seperti tata bahasa, yang dipergunakan untuk memproduksi kalimat-kalimat dalam bahasa yang dipelajari. Pada level-level berikutnya, penguasaan materi-materi ini akan meningkat dan berkembang seiring dengan bertambahnya input yang dia terima. Sebagai outputnya, seorang pembelajar bahasa akan dapat memproduksi kata-kata atau kalimat bahkan sebuah discourse melalui keterampilan mendengarkan(listening), berbicara(speaking), membaca(reading), dan menulis(writing). Proses output ini ternyata tak selalu mulus seperti yang diharapkan. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi perforrmance seorang pembelajar bahasa. Salah satu faktor itu adalah monitor.

Istilah monitor berasal dari bahasa Inggris monitor yang artinya layar. Ini adalah sebuah perangkat kasat mata yang terdapat dalam otak kita yang berfungsi layaknya sebuah monitor. Pengaruh fungsi perangkat ini paling besar nampak dalam penampilan seorang pembelajar bahasa ketika dia berbicara. Coba anda ingat-ingat, suatu saat mungkin anda pernah melihat seseorang ragu-ragu untuk mempraktikkan kemampuan berbicaranya dalam bahasa asing padahal sudah dipersiapkan sebelumnya. Atau bahkan anda mengalaminya sendiri ketika anda merasa takut membuat kesalahan dalam pemilihan kosa kata, tata bahasa, pengucapan dan sebagainya. Ini adalah alami sekali karena di sinilah perangkat monitor ini sedang bekerja memantau anda.

Dalam ilmu psikolinguistik, pengkajian ilmu bahasa berkaitan dengan ilmu psikologi, pembelajar bahasa disebut sebagai monitor user(pengguna monitor). Mereka diklasifikasikan menjadi tiga tipe, yaitu

1. overuser,

2. underuser,

3. optimal user.

Tipe pertama, overuser, adalah orang-orang yang boleh jadi dari segi penguasaan tata bahasa, kosa kata, dan yang lainnya cukup bagus tapi masih ragu-ragu untuk menyampaikan secara oral apa yang dia igin katakan. Sebagai akibatnya, mungkin saja mereka malah tak dapat memproduksi sepatah katapun. Tipe ini identik dengan orang-orang yang memiliki karakter introvert yang cenderung tertutup.

Tipe kedua adalah underuser. Tipe ini ada pada orang-orang yang secara konsep, penguasaan bahasanya kurang; minim pengetahuan tata bahasa dan juga kosa katanya. Tetapi dengan segala keterbatasannya tersebut, mereka tetap memiliki kepercayaan diri yang baik untuk berbicara dalam bahasa yang baru dipelajarinya tanpa ragu-ragu. Beberapa atau malah banyak kesalahan-kesalahan tata bahasa, kosa kata dan sebagainya dia buat tetapi semua itu tidak mempengaruhi dia dalam menyampaikan apa yang ingin dia katakan atau pikirkan. Tipe pengguna monitor satu ini lebih identik pada orang-orang berkarakter ekstrovert.

Sedangkan tipe yang ketiga, yaitu optimal user, sering kita jumpai ketika kita melihat orang-orang yang mampu menyampaikan ide, gagasan ataupun obrolan-obrolan ringan dalam bahasa kedua atau bahasa asing mereka dengan baik. Pembelajar bahasa dengan tipe ini memiliki penguasaan bahasa yang bagus, tidak hanya kaya akan kosa kata, mampu menggunakan tata bahasa yang sesuai, tetapi juga mampu mengorganisasi ide-idenya dengan baik melalui bahasanya tersebut sehingga dia berhasil menggunakan bahasanya secara optimal.

Setelah mengetahui tipe-tipe tersebut diatas, cobalah menidentifikasi tipe manakah yang sesuai dengan anda? Tipe yang bagaimana yang anda inginkan? Bagaimana usaha anda untuk mewujudkan keinginan anda? Siapapun dan tipe apapun anda, sebaiknya anda selalu ingat bahwa bahasa apapun memiliki fungsi komunikatif , untuk menyampaikan ide, pikiran, gagasan dan apapun yang anda ingin sampaikan pada orang lain untuk dimengerti dan mendapatkan apa yang anda inginkan. (roe)

Tuesday, April 15, 2008

Bagaimana Memulai Menulis

Bagaimana Memulai

Banyak yang ingin menulis ke media tapi bingung bagaimana memulainya. Ada dua cara:

1. Mempelajari teori menulis baru praktik;
2. Learn the hard way atau menulis dulu teori belakangan.

Terserah kita mana yang lebih enak dan nyaman. Tapi, berdasarkan pengalaman beberapa penulis di India yang tulisannya sudah banyak dimuat di media, alternatif kedua tampaknya lebih bagus. Rizqon Khamami, Zamhasari Jamil, A. Qisai, Tasar Karimuddin, Beben Mulyadi, Jusman Masga, Irwansyah, dan lain-lain semuanya belajar menulis dengan langsung mengirim tulisannya. Bukan dengan belajar teori menulis lebih dulu.

Saya sendiri merasa alternatif kedua lebih enak. Ini karena kemampuan daya serap saya terhadap teori sangat terbatas. Saya pernah mencoba belajar teori menulis. Hasilnya? Pusing. Bukan hanya itu, bahkan dalam belajar bahasa Inggris pun, saya cenderung langsung membaca buku, koran atau majalah.

Sulitkah Menulis?

Sulitkah menulis? Iya dan tidak. Sulit karena kita menganggapnya sulit. Mudah kalau kita anggap “santai”. Eep Saifullah Fatah, penulis dan kolomnis beken Indonesia, mengatakan bahwa menulis akan terasa mudah kalau kita tidak terlalu terikat pada aturan orang lain. Artinya, apa yang ingin kita tulis, tulis saja. Sama dengan gaya kita menulis buku diary. Setidaknya, itulah langkah awal kita menulis: menulis menurut gaya dan cara kita sendiri. Setelah beberapa kali kita berhasil mengirim tulisan ke media — dimuat atau tidak itu tidak penting– barulah kita dapat melirik buku-buku teori menulis, untuk mengasah kemampuan menulis kita. Jadi, tulis-tulis dahulu; baca teori menulis kemudian.

Topik Tulisan

Topik tulisan adalah berupa tanggapan tentang fenomena sosial yang terjadi saat ini. Contoh, apa tanggapan Anda tentang bencana gempa dan tsunami di Aceh? Apa tanggapan Anda seputar pemerintahan SBY? Apa tanggapan Anda tentang dunia pendidikan di Indonesia? Dan lain-lain.

Sekali lagi, usahakan menulis sampai 700 kata dan maksimum 1000 kata. Dan setelah itu, kirimkan langsung ke media yang dituju. Jangan pernah merasa tidak pede. Anda dan redaktur media tsb. kan tidak kenal. Mengapa mesti malu mengirim tulisan? Kirim saja dahulu, dimuat tak dimuat urusan belakangan. Keep in mind: Berani mengirim tulisan ke media adalah prestasi dan mendapat satu pahala. Tulisan dimuat di media berarti dua prestasi dan dua pahala. Seperti kata penulis dan ustadz KBRI, Rizqon Khamami.

Rendah Hati dan Sifat Kompetitif

Apa hubungannya menulis dengan kerendahan hati? Menulis membuat kita menjadi rendah hati, tidak sombong. Karena ketika kita menulis dan tidak dimuat, di situ kita sadar bahwa masih banyak orang lain yang lebih pintar dari kita.

Nah, menulis dan mengirim tulisan ke media membuat kita terpaksa berhadapan dengan para penulis lain dari dunia dan komunitas lain yang ternyata lebih pintar dari kita yang umurnya juga lebih muda dari kita. Di situ kita sadar, bahwa kemampuan kita masih sangat dangkal. Kita ternyata tidak ada apa-apanya. Ketika kita merasa tidak ada apa-apanya, di saat itulah sebenarnya langkah awal kita menuju kemajuan.

Kita juga akan terbiasa menghargai orang dari isi otaknya bukan dari umur atau senioritasnya apalagi jabatannya.
Di sisi lain, membiasakan mengirim tulisan ke media membuat sikap kita jadi kompetitif. Sekedar diketahui, untuk media seperti KOMPAS, tak kurang dari 70 tulisan opini yang masuk setiap hari, dan hanya 4 tulisan yang dimuat. Bayangkan kalau Anda termasuk dari yang empat itu. Itulah prestasi. Dan dari situlah kita juga belajar menghargai prestasi dan keilmuan serta kekuatan mental juara seseorang.

It’s your choice: you are either being a loser or a winner. Being a loser is easy. Just sit down in the chair, behind your desk. And feel comfort with your hallucination of being “a great guy” which is actually not, as a matter of fact.

Sumber: www.fatihsyuhud.com